Kamis, 12 Juli 2018

TUGAS PEREKONOMIAN INDONESIA#


KONDISI UMKM DI INDONESIA

 Image result for logo gunadarma


Disusun oleh:

NAMA                   :    ROSIDAH PANJAITAN
KELAS                  :    1 EB 18
NPM                      :    25217400
DOSEN                 :    Bapak Joko Utomo
MATA KULIAH   :    Perekonomian Indonesia#


UNIVERSITAS GUNADARMA
TAHUN AJARAN 2017/2018








BAB I

PENDAHULUAN

Krisis yang menimpa Indonesia tahun 1997 diawali dengan krisis nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan krisis moneter yang berdampak pada perekonomian Indonesia yakni resesi ekonomi. Hal ini merupakan pelajaran yang sangat penting untuk kembali mencermati suatu pembangunan ekonomi yang benar-benar memiliki struktur yang kuat dan dapat bertahan dalam situasi apapun (Anggraini dan Nasution, 2013:105).
Ketika krisis ekonomi menerpa dunia otomatis memperburuk kondisi ekonomi di Indonesia. Kondisi krisis terjadi priode tahun 1997 hingga 1998,hanya sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang mampu tetap berdiri kokoh. Data Badan Pusat Stastistik merilis keadaan tersebut pasca krisi ekonomi jumlah UMKM tidak berkurang, justru meningkat pertumbuhannya teruas, bahkan mampu menyerap 85 juta hingga 107 juta tenaga kerja samapai tahun 2012. Pada tahun itu jumlah pengusaha di Indonesia sebanyak 56.539.560 unit. Dari jumalh tersebut, UMKM sebanyak 56.534.592 unit atau sebesar 99,99%. Sisanya sekitar 0,01% atau sebesar 4.968 unit adalah Usaha bersekala besar. Fenomena ini menjelaskan bahwa UMKM merupakan usaha yang produktive untuk dikembang kan bagi mendukung perkembangan ekonomi secara makro dan mikro di Indonesia dan mempengaruhi sektor-sektor yang lain bisa berkembang.Salah satu sektor yang terpengaruh dari pertumbuhan UMKM adalah sektor jasa perbank yang ikut terpengar, sebab hampir 30% usaha UMKM mengunakan modal oprasioanal dari perbankan.
Pengalaman tersebut telah menyadar kan banyak pihak, untuk memberikan  porsi lebih besar terhadap bisnis skala mikro, kecil, dan menengah. Persoalan klasik seperti akses permodalan kepada lembaga keuangan pun mulai bisa teratasi. Karena di dalam peraturan itu tercantum mengenai perluasan pendanaan dan fasilitasi oleh perbankan dan lembaga jasa keuangan non-bank (LPPI&BI,2015:1).
Semua untuk dicarikan solusi yang terbaik. Kelemahan yang dihadapi oleh para pengusaha UMKM dalam meningkatkan kemampuan usaha sangat kompleks dan meliputi berbagai indikator yang mana salah satu dengan yang lainnya saling berkaitan antara lain; kurangnya permodalan baik jumlah maupun sumbernya, kurangnya kemam puan manajerial dan keterampilan beroperasi dalam mengorganisir dan terbatasnya pemasaran. Disamping hal-hal terdapat juga persaingan yang kurang sehat dan desakan ekonomi sehingga mengakibatkan ruang lingkup usaha menjadi sempit dan terbatas. Kekawatiran ini dilandasi bahwa Indonesia akan menghadapi MEA dan pasar bebas. Ketiaka itu terlaksana tuntutannya adalah UMKM harus mampu bersaing.
Harapan Pemerintah ketika pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Association of Southeast Asian Nations perlu dilakukan persiapan secara terintegrasi dan komprehensif, agar pelaksanaan Masyara kat Ekonomi Association of Southeast Asian Nations dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi kepentingan nasional. keberhasilan yang telah dicapai oleh memiliki titik.







 BAB II
ISI

Sektor UMKM kemampuan yang handal dan mumpuni serta memiliki peranan penting dalam kancah  perekonomian Nasional. UMKM memiliki proporsi sebesar 99,99% dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia atau sebanyak 56,54 juta unit. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah telah mampu membuktikan eksistensinya dalam perekonomian di Indonesia. Ketika badai krisis moneter melanda Indonesia di tahun 1998 usaha berskala kecil dan menengah yang relatif mampu bertahan dibandingkan perusahaan besar. Karena mayoritas usaha berskala kecil tidak terlalu tergantung pada modal besar atau pinjaman dari luar dalam mata uang asing. Sehingga, ketika ada fluktuasi nilai tukar, perusahaan berskala besar yang secara umum selalu berurusan dengan mata uang asing adalah yang paling berpotensi mengalami imbas krisis.
Kemandirian UMKM bisa terlihat berdasarkan data industri perbankan yang menunjukan pertumbuhan kredit UMKM hanya rata-rata mencapai 13,67% pertahun. Pemberian kredit masih didominasi oleh Bank Umum Nasional, yang memang telah diistruksikan oleh Pemerintah untuk lebih memperhatikan UMKM melalui intrumen kebijakan ekonomi “Paket 4”.

Tabel.1 Penyaluran Kredit UMKM

Tahun 2014

Keterangan                                        Pertumbuhan (%)

 

           Bank Umum BUMN Nasional                             (57%)
 Bank Umum Swasta Nasional                             (40%)
 Bank asing                                                           ( 3% )
 


Sumber: data BI, 2015


Disatu sisi berdasarkan data tabel 1, kita optimis bahwa UMKM akan tetap mampu tumbuh dan berkembang namun dilain sisi jika  diperhatikan lebih  seksama, maka kelamahan UMKM adalah tidak akan bisa mengembangkan usahanya jika tidak mendapatkan kucuran bantuan      modal dalam berkompetisi, maka kelemahan ini seperti kurangnya permudalan , kemampuan manajerial persaingan yang kurang sehat mengakibatkan ruang lingkup usaha menjadi terbatas sulit dalam jangka pendek terselesaikan walaupun pemerintahan mengerahkan kebijakan-kebijakan dalam mendukung UMKM.
Kemudian, selama tahun 2011 hingga tahun 2012 terjadi fluktuasi pertumbuhan UMKM. Tabel 2 berikut dapat menjadi gambaran bagaimana peningkatan UMKM di Indoneisa.

Tabel 2 Perkembangan UMKM   dan Usaha Besar Nasional di

Indonesia Tahun 2011-2012
                     Keterangan                2011                            2012
                        Usaha Besar                41,95%              40,92%
                      Usaha Menengah          13,46%              13,59%

                      Usaha Kecil                  9,94                    9,68%

                    Usaha Mikro               34,64                   38,81%

       Sumber: Kementrian Koperasi dan UMKM, 2014


Berdasarkan tabel 2 pada priode tahun 2011, usaha besar mencapai sebesar 41,95%, kemudian di priode tahun berikutnya hanya sebesar 40,92%, turun sekitar 1,03%. Disektor UMKM terjadi sebaliknya. Usaha menengah pada priode tahun 2011 dari 13,46%, meningkat pada priode tahun 2012 mencapai sebesar 13,59%. Ada pertumbuhan sebesar 0,13%. Namun terjadi berbeda di usaha kecil, ada sedikit penurunan 0,26% dari priode tahun 2011 sebesar 9,94% ke priode tahun 2012sebesar9,68%.  Peningkatan cukup brsar menjadi pada usaha mikro, dip erode tahun 2011 hanya mencapai sebesar 34,64%, pada periode tahun 2012 berhasil meraih tumbuh sebesar 4,17% atau sebesar 38,81%.
Selanjutnya, data pertumbuhan UMKM dalam menyumbang terhadap PDB dan nilai ekspor di indonesia tersajikan pada table 3 berikut:



Tabel 3   Perkembangan UMKM terhadap Sumbangan PDB dan

Nilai Ekpor Tahun 2011-2013

         Keterangan                                       2011                      2012             2013

           Sumbangan                                               1.369.3           1.452.4        1.536,9

           PDB(harga konstan) dalam miliar              20,00            60,20        18,80

           Pertumbuhan sumbangan PDB                 6,76%             6%                 5,89%
           Nilai ekspor(dalam miliar)                     187.441,82      166.626,50    182.112,70
            Pertumbuhan nilai ekspor                        6,56%            -11,10%         9,29%

Sumber: BPS Indonesia dalam angka,2016


Berdasarkan tabel 3 mengambarkan bahwa UMKM menyumbangkan PDB dari tahun 2011 hingga tahun 2013 mengalami flutuatif naik turun peningkatan. Pada priode 2011 pertumbuhan PDB nya sebesar 6,76%     namun  ditahun  2012 mengalami penurunan sebesar 0,76% atau sebesar 6% dari total PDB Nasional. Pada priode 2013 ada peningkatan sebesar 0,3 dari priode tahun sebelumnya atau sebesar 6,03%. Selanjutnya, pertumbuhan nilai ekspor ditahun 2013 mengalami angka pertumbuhan berarti bagi pembentuk PDB Nasional yaitu sebesar 9,29% lebih baik dari pada priode tahun sebelumnya yang mengalami minus -11,10%. Melihat fenomena data yang dirilis oleh BPS tahun 2016 ini menunjukan bahwa UMKM harus terus dibina demi meningkatkan pertumbuhan bagi PDB secara keseluruhan bagi Nasional.
Pemberian pelatihan mulai dari pengelolaan manajemen keuangan hingga pemasaran ke market bagi UMKM merupakan tugas yang berat dijalankan oleh Pemerintah. Peran nyata yang telah dilakukan UMKM bisa tergambarkan dari data-data tabel 2 dan tabel 3 seperti nilai ekspor yang diperankan oleh UMKM mencapai 9,29 merupakan prestasi yang tidak gampang di kerjakan oleh sebuah usaha. Kedepanya Indonesia dapat menatap tantangan MEA dengan baik dan mempu berkompetisi secara profesional serta mampu mewarnai prekonomian Nasional dengan lebih baik

Bank Indonesia (BI) menilai potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan kontribusi hingga Rp 850 triliun per tahun pada Produk Domestik Bruto (PDB). Namun kontribusi UMKM pada perekonomian pada tahun ini diprediksi turun.
 Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi UMKM terhadap perekonomian cukup besar mencapai 61.41 persen, sementara penyerapan tenaga kerja UMKM setidaknya mendominasi hampir 97 persen dari total tenaga kerja nasional. Jumlah UMKM telah mencapai 60 juta unit.
Menurut Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, diprediksi pada 2017-2020 jumlah unit UMKM bisa menembus 65 juta unit baik usaha menengah, mikro, dan kecil. Namun tantangan UMKM masih cukup besar khususnya di sektor industri pengolahan. Porsi ekspor nonmigas UMKM masih di bawah 16 persen. Selain itu data terakhir industri pengolahan menengah kecil mengalami penurunan.
"Kontribusi UMKM pada tahun ini kemungkinan besar sedikit menurun. Karena UMKM terutama sektor perdagangan dan industrinya lesu," kata Bhima kepada Republika.co.id, Jumat (18/8).
Berdasarkan data BPS per Agustus 2017 pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil di kuartal II-2017 sebesar 2,5 persen. Realisasi ini anjlok dari capaian pertumbuhan di kuartal I-2017 sebesar 6,63 persen dan lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu sebesar 6,56 persen. Hal ini menunjukkan kondisi UMKM yang kurang begitu baik tahun ini. "Kalau UMKM-nya pertumbuhannya kurang bagus, pertumbuhan ekonominya sulit mencapai target 5,2 persen, apalagi di 2018 targetnya 5,4 persen," kata Bhima.
Untuk mendorong pertumbuhan UMKM, menurut Bhima harus ada perubahan porsi KUR dari sebelumnya 60 persen tersalur ke sektor perdagangan, sekarang targetnya 40 persen ke sektor pengolahan. Kemudian bunga KUR masih berpeluang turun di bawah 8,5 persen dari level saat ini sembilan persen per tahun. Sedangkan untuk UMKM di bidang pengolahan harus ada aksi afirmatif, pemberian kredit tidak bisa disamakan dengan sektor perdagangan. Aksi afirmatif seperti jangka waktu pengembalian cicilan UMKM industri yang lebih lama atau diberikan grace period. Solusi berikutnya adalah dorong UMKM agar go digital. Ini perlu difasilitasi oleh Pemerintah dengan membuat market place khusus UMKM," ujar Bhima.


Posisi Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada Bank Umum (miliar rupiah), 2012-2016



Rincian
2012 r
2013
2014
2015
2016
UMKM





Lapangan Usaha





Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan
43 609
51 912
58 658
65 530