Rabu, 25 April 2018

TUGAS PEREKONOMIAN INDONESIA#


DAMPAK PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN DAN PEMERATAAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA




NAMA                 :  ROSIDAH PANJAITAN
KELAS                 : 1EB18
NPM                    :  25217400
DOSEN                :  BAPAK JOKO UTOMO
MATA KULIAH           :  PEREKONOMIAN INDONESIA#


UNIVERSITAS INDONESIA
ATA 2017/2018








 

BAB I
PENDAHULUAN


Kemiskinan merupakan fenomena yang terjadi hampir di semua negara sedang berkembang. Kemiskinan muncul karena ketidakmampuan sebagian masyarakat untuk menyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi. Kondisi ini
menyebabkan menurunnya kualitas sumber daya manusia sehingga produktifitas dan pendapatan yang diperolehnya rendah. Masalah kemiskinan merupakan salah satu masalah utama dalam pembangunanekonomi. Pembangunan ekonomi pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pendapatan serta pertumbuhan ekonomi di semua sektor pembangunan, pemerataan pembangunan yang optimal, perluasan tenagakerja dan peningkatan taraf hidup masyarakat. Dalam mencapai tujuan pembangunan
secara menyeluruh diperlukan adanya pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan distribusi mendapatan yang merata. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa pembangunan nasional adalah salah satu upaya untuk menjadi tujuan masyarakat adil da makmur. Sejalan dengan tujuan tersebut, berbagai kegiatan pembangunan telah diarahkan kepada pembangunan daerah
khususnya daerah yang relative mempunyai tingkat kemiskinan yang terus naik dari tahun ke tahunn. Pembangunan daerah dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan sesuai prioritas dan kebutuhan masing-masing daerah dengan akar dan sasaran pembangunan nasional yang telah ditetapkan melalui pembangunan jangka panjang dan jangka pendek. Oleh karena itu, salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan nasional adalah laju penurunan jumlah penduduk miskin. Efektifitas dalam enurunnkan jumlah penduduk miskin merupakan pertumbuhan utama dalam memilih strategi pembangunan. Hal ini berarti salah satu criteria utama pemilihan sector titik berat atau sector andaahn pembangunan nasional adalah efektifitas dalam penurunan jumlah penduduk miskin.
Pemerintah baik pusat maupun daerah telah berupaya dalam melaksanakan berbagai kebijakan dan program-program penanggulangan kemiskinan namun masih jauh dari induk permasalahan. Kebijakan dan program yang dilaksnakan belum menampakkan hasil yang optimal. Masih terjadi kesenjangan antara rencana dengan pencapaian tujuan karena kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan lebih berorientasi pada program sektoral. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi penanggulangan kemiskinan yang terpadu, terintegrasi dan sinergis sehingga dapat menyelesaikan masalah secara tuntas. Dimensi kemiskinan dapat berbentuk dari aspek ekonomi, aspek SDM,fisik/infrastruktur, masalah
sosial dan keluarga/rumah tangga. Perlu diperhatikan bahwa yang dibutuhkan masyarakat
miskin tidak hanya bantuan modal/materi, tetapi juga suatu kondisi yang kondusif yang memungkinkan mereka untuk membentuk jaringan sosial dan ekonomi di antara mereka sendiri. Pemerintah daerah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seringkali merupakan lembaga yang terbaik untuk menyediakanvlingkungan seperti tersebut.








BAB II
ISI

Sepanjang 2015, perekonomian nasional mengalami tekanan yang cukup berat. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cukup dalam membuat perekonomian juga turut melambat. Situasi itu berpengaruh negatif terhadap dunia usaha dan memicu terjadinya kebangkrutan dan pemutusan hubungan kerja (PHK). Wajar saja jika banyak pihak memperhitungkan bahwa kondisi ini membuat angka pengangguran dan kemiskinan meningkat. Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa Ekonomi Indonesia pada triwulan III-2015 hanya tumbuh sebesar 4,73 persen terhadap triwulan III/2014 (yoy). Capaian tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II-2015 sebesar 4,67 persen. Namun capaian tersebut masih di bawah pertumbuhan ekonomi pada triwulan III/2014 sebesar 4,92%. Publikasi BPS itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan ketiga tahun 2105 mengalami pelambatan. Kondisi ekonomi yang melambat tentu membawa pengaruh pada penyerapan tenaga kerja.
                Menurut publikasi BPS, angkatan kerja pada Agustus 2015 berjumlah sebanyak 122,4 juta orang. Angka ini menunjukkan bahwa angkatan kerja dibanding Agustus 2014 bertambah sebanyak 510.000 orang. Namun penambahan angkatan kerja tersebut belum bisa terserap oleh dunia kerja. Akibatnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami peningkatan. Angka TPT pada Agustus 2014 tercatat sebesar 5,94%, angka tersebut naik menjadi sebesar 6,18% pada Agustus 2015. Kalau kita telusuri data terkait kelompok masyarakat yang bekerja, kondisinya juga tak begitu menggembirakan. Dilihat dari jam kerja, berdasarkan jam kerja per minggu, jumlah penduduk bekerja di atas 35 jam per minggu (pekerja penuh) pada Agustus 2015 hanya berjumlah 80,5 juta orang dari angkatan kerja yang berjumlah 122,4 juta orang. Kemudian sebanyak 6,5 juta pekerja di Indonesia yang dalam seminggu bekerja kurang dari 15 jam. Kondisi yang semakin ironis akan terlihat dari komposisi penduduk bekerja menurut tingkat pendidikan. Menurut data BPS per Agustus 2015, penduduk Indonesia yang bekerja masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 44,27%. Adapun penduduk bekerja dengan pendidikan sarjana ke atas masih kecil sekali, hanya 8,33%. Potret ironis tersebut akan semakin memprihatinkan ketika dihubungkan dengan masalah kemiskinan di Indonesia.
                Menurut BPS, pada bulan Maret 2015 lalu saja, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,22%). Angka itu bertambah sebesar 0,86 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2014 yang sebesar 27,73 juta orang (10,96%). Penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2015 meningkat menjadi 8,29% dibanding September 2014 sebesar 8,16%. Angka persentase itu merepresentasi kenaikan jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan sebanyak 0,29 juta orang (dari 10,36 juta orang pada September 2014 menjadi 10,65 juta orang pada Maret 2015). Persentase penduduk miskin di daerah perdesaan juga meningkat. Angkanya naik dari 13,76% pada September 2014 menjadi 14,21% pada Maret 2015. Dari segi jumlah, selama periode September 2014-Maret 2015, kemiskinan di daerah perdesaan naik sebanyak 0,57 juta orang (dari 17,37 juta orang pada September 2014 menjadi 17,94 juta orang pada Maret 2015). Meningkatnya kemiskinan itudipicu oleh variabel komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap Garis Kemiskinan. Pengaruhnya jauhlebihbesar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pengaruh komoditi makanan terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di perdesaan, di antaranya adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mi instan, gula pasir, tempe, tahu, dan kopi. Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2015 tercatat sebesar 73,23 persen. Menurut BPS, pada periode September 2014-Maret 2015, baik Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) cenderung mengalami kenaikan. Uraian kinerja perekonomian nasional, dilihat dari pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan dan kemiskinan menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dalam menggerakkan perekonomian nasional masih jauh dari menyejahterakan rakyat. Berbagai upaya yang sering disampaikan dengan retorika populis ternyata justru berbuah beratnya beban kehidupan masyarakat. Potret yang diungkapkan oleh BPS di atas, harusnya menjadi indikator bagi otoritas kebijakan bahwa kinerja mereka masih jauh dari kategori baik. Dampaknya adalah masyarakat tidak bisa mendapatkan akses pada pekerjaan dan penghidupan yang layak. Tanpa ada kemauan untuk melakukan koreksi, kehadiran pemerintahan saat ini dan segenap kebijakannya harus dijalani dengan semakin beratnya beban kehidupan sosial ekonomi rakyat.






Pemerataan Pembangunan di Indonesia dan Bagaimana Kesenjangan Hasil Yang Menikmati Hasil Pembangunan dan Tidak

Masalah kemiskinan dan kesenjangan masih belum teratasi. Laporan Pembangunan Manusia Tahun 2016 yang disampaikan UNDP 22 Maret 2017 menempatkan Indonesia di urutan 113 dari 188 negara. Ini menegaskan, selama 25 tahun pembangunan periode (1990–2015) tak terlalu signifikan.Pencapaian memang ada, misalnya pendapatan nasional bruto naik 135,4 persen. Angka harapan hidup naik 5,8 tahun. Kesenjangan turun 19,3 persen. Yang masih harus dikerjakan, perlu pemerataan pembangunan untuk mereduksi kesenjangan. Dengan begitu pembangunan dirasakan seluruh rakyat, di antaranya bisa menggenjot dengan dana desa.Problem pembangunan yang memicu ketimpangan sebenarnya juga dapat direduksi dengan otda. Sayang, 10 tahun lebih otda, belum mampu mereduksi. Ironisnya justru kian banyak pemekaran daerah yang kemudian memunculkan berbagai persoalan baru, termasuk semakin tingginya migrasi dan korupsi.Asumsi urbanisasi bisa memberi perbaikan kehidupan mengebiri otda yang diharapkan dapat meningkatkan ekonomi daerah. Otda tidak berpengaruh signifikan bagi kesejahteraan. Ini terlihat makin banyak daerah tertinggal, menurut Bappenas, daerah tertinggal tahun 2014 sebanyak 127 kabupaten. Mereka ada di Papua (35 kabupaten), Nusa Tenggara Timur dan Barat (25). Kemudian Maluku dan Sumatra masing-masing 14. Sulawesi 12 kabupaten, Kalimantan (11), dan Jawa 8. Indonesia bagian timur masih tetap banyak yang miskin (105). Hal ini memperkuat argumen tentang fakta ketimpangan dari laporan terbaru UNDP tersebut. 
Ketimpangan menjadi tantangan pembangunan dan keterbatasan anggaran menjadi alasan klasik. Kerja sama bilateral mendanai pembangunan daerah terpencil menjadi salah satu solusi. Paling tidak, ini terkait juga pembangunan infrastruktur. Komitmen bilateral donor seperti Jepang terhadap rencana pembangunan infrastruktur daerah terpencil amat penting. Daerah terpencil biasanya tertinggal dengan penduduk miskin tinggi dan berpendidikan rendah. Pelaksanaan otda selama ini belum berhasil signifikan. Banyak daerah dimekarkan supaya memacu ekonomi dengan sumber daya lokal serta meningkatkan pemberdayaan. Sumber daya lokal untuk menciptakan produk unggulan dan menyerap tenaga kerja. Dengan begitu ekonomi kerakyatan bisa bangkit. Sayang, pemekaran selama ini banyak mengabaikan potensi ekonomi lokal. Yang banyak berkembang hanyalah permainan politk politik. Jadinya, daerah hasil pemekaran tidak berkembang signifikan, sementara daerah induk juga stagnan. Hal ini membuat kesenjangan dan ketimpangan tak berkurang. Masyarakat memilih ke kota. Sebaran daerah tertinggal hanya memperlebar ketimpangan. Pemekaran perlu dihentikan. Otda juga perlu dikaji ulang. Tingkat kemiskinan dan perubahan bervariasi menurut provinsi karena perbedaan berbagai faktor. Ini tentu langsung berpengaruh terhadap kesejahteraanPerlu persebaran investasi guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan berbagai cara seperti pembangunan infrastruktur. Persoalan kesenjangan memang menjadi ancaman pembangunan. Indonesia sebagai negara kepulauan juga tidak bisa menghindarinya. Laporan terbaru UNDP menjadi pembenar. Ketimpangan antarwilayah dapat dilihat dari perbedaan kesejahteraan-perkembangan ekonomi antarwilayah. Realita menunjukkan, angka kemiskinan di DKI Jakarta 5,2 persen dan Papua 38,7 persen. Ketimpangan pelayanan sosial dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan air bersih juga terjadi antarwilayah. Di mana penduduk di Jakarta rata-rata bersekolah 9,7 tahun. Sedang penduduk daerah tertinggal rata-rata bersekolah selama 5,8 tahun. 
Akses Rendah
Ketimpangan antarwilayah juga ditandai rendahnya aksesibilitas pelayanan sarana prasarana ekonomi sosial, terutama perdesaan, daerah terpencil, perbatasan serta daerah tertinggal. Ketimpangan antarkawasan perkotaan-perdesaan juga ditunjukkan rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat desa. Pembangunan kawasan perdesaan tertinggal dari perkotaan. Desa banyak tergantungpada kpta karena minim akses permodalan, lapangan kerja, informasi, teknologi, dan pemasaran hasil produksi penduduk desa. Ketimpangan ini memicu migrasi sehingga arus balik setiap habis libur lebaran cenderung meningkat. Di sisi lain juga berdampak pada peningkatan jumlah penduduk miskin di daerah tujuan migrasi. Ini juga memicu ancaman kerawanan sosial perkotaan dan tumbuhnya kawasan kumuh. Maka, pembangunan daerah terpencil menjadi penting untuk kepentingan jangka panjang. Ini juga untuk memacu ekononi daerah sesuai janji otda untuk meningkatkan kesejahteraan dan mereduksi ketimpangan. Persoalan kemiskinan dan kesenjangan memang menjadi isu utama negara berkembang. Pemerintah telah meningkatkan anggaran untuk mereduksi kemiskinan. Kemiskinan memang menurun, meski sejak 2007 terjadi perlambatan penurunan. Padahal anggaran APBN terus meningkat. Bappenas menegaskan bahwa penurunan kemiskinan periode 2005–2010 mencapai 816.000 jiwa per tahun. Namun periode 2010–2015 tinggal 486.000 jiwa per tahun. Sedangkan angka kemiskinan september 2016 mencapai 27 juta jiwa atau 10,7 persen dari total penduduk. Kasus kemiskinan semakin pelik jika dikaitkan dengan target penurunan 10,5 persen untuk tahun ini dan 10 persen tahun depan. Di sisi lain, alokasi APBN cenderung meningkat dari 42 triliun tahun 2006 menjadi 214 triliun tahun lalu. Problem ini tidak hanya menjadi tantangan kepala daerah baru hasil pilkada serentak, tapi juga pemerintah pusat agar tujuan pembangunan dan pemertaan hasilnya dapat tercapai. 
Mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar, menilai tingkat kesenjangan ekonomi Indonesia semakin menganga Itu mengharuskan pemerintah segera mengambil langkah strategis dalam rangka peningkatan perekonomian nasional melalui pemerataan pembangunan. Pasalnya, Indeks Rasio Gini Indonesia yang saat ini mencapai angka 0,42 tersebut sudah memasuki taraf yang membahayakan. " Kesenjangan antara golongan kaya dan miskin di Indonesia yang berjalan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini telah tumbuh lebih cepat dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara," ungkap politisi Partai K, dalam acara Dialog Publik di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (23/3/2017). Ia mengatakan, berdasarkan Global Wealth Report yang dibuat oleh Credit Suisse’s, Indonesia menempati peringkat keempat negara paling timpang di dunia. Sebab, 1 persen orang terkaya menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. (Baca: Bicara soal Keadilan dan Kesenjangan, Wapres JK Singgung Banjir Jakarta) “Kondisi tersebut membuat kita harus menghadapi sedikit kebisingan dan kegaduhan ekonomi, kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi yang sangat lebar itu membuat Negara kita dinilai benar-benar menghadapi darurat kesenjangan,” tegas Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) DPP PKB itu. Lebih jauh, Marwan menuturkan, tingkat pemerataan pembangunan ekonomi antarprovinsi di Indonesia yang berjalan sejauh ini masih bertumpu di wilayah pulau Jawa. Sementara, di luar Jawa masih mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif kecil. "Pulau Jawa bisa menyumbang 58 persen terhadap pertumbuhan perekonomian nasional, tingkat kemiskinan dan penganggurannya pun relatif rendah. Di luar Pulau Jawa tingkat pertumbuhan ekonominya di kisaran 2 persen sampai 7,4 persen," ujar dia. Darurat kesenjangan ekonomi Indonesia juga dapat dilihat dari hasil penilitian Bank Dunia yang menyebutkan 10 persen orang terkaya menguasai 77 persen dari total kekayaan nasional. Sedangkan 200 juta lebih penduduk lainnya hanya menikmati tak lebih dari 25 persen. Oleh karena itu, kata Marwan, pemerintah harus segera mengambil langkah strategis. Di antaranya, menggulirkan program pembangunan adil dan merata dengan memperkuat daerah-daerah terluar guna menekan disparitas ekonomi serta memperjelas keberpihakan terhadap masyarakat kecil. Selain itu, lembaga-lembaga ekonomi masyarakat, seperti UMKM perlu diperkuat, mengingat besarnya konstribusi UMKM terhadap PDB nasional yang tercatat mencapai 61,41% atau sekitar Rp.6.228.285 miliar.







BAB III
PENUTUP

  A.    Kesimpulan
Masalah kemiskinan merupakan salah satu masalah utama dalam pembangunanekonomi. Pembangunan ekonomi pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pendapatan serta pertumbuhan ekonomi di semua sektor pembangunan, pemerataan pembangunan yang optimal, perluasan tenagakerja dan peningkatan taraf hidup masyarakat. Dalam mencapai tujuan pembangunan secara menyeluruh diperlukan adanya pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan distribusi mendapatan yang merata.

  B.   Kesimpulan
Sebaiknya pemerintah lebih memfokuskan tentang pertumbuhan ekonomi yang ada di indonesia. Karena jika tidak maka akan mempengaruhi inflasi pertumbuhan perekonomian indonesia yang membawa dampak buruk ke pada masyarakat. Dan pemerinta harus memfokuskan kepada masyarakat yang mempunyai tingkat pendapatan perkapita di bawah standar dan pengangguran agar terciptanya kesejahterahan masyarakat yang merata. Serta pemerataan penbangunan seperti infrastruktur agar masyarakat seperti di pedalaman dapat menikmati berbagai fasilitas yang ada di kota.







BAB IV
DAFTAR PUSTAKA













Tidak ada komentar:

Posting Komentar