
Disusun oleh:
NAMA : ROSIDAH PANJAITAN
KELAS : 1 EB 18
NPM : 25217400
DOSEN : IBU TIWI ANGGRAENI
MATA KULIAH : PENGANTAR
BISNIS#
UNIVERSITAS GUNADARMA
TAHUN AJARAN 2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN
Sektor
Pariwisata Indonesia sudah sejak beberapa dekade lalu mempunyai unggulan yang
menjanjikan hanya saja belum menjadi perhatian serius dan utama Pemerintah
Republik Indonesia, hingga pada akhirnya Pemerintahan Presiden Jokowi berniat
menggarap sektor pariwisata lebih serius dan menjadikannya sebagai suatu
industri dan andalan pendapatan negara.Tanpa ditetapkan sebagai industri, sulit
bagi sektor Pariwisata untuk berkembang, mendatangkan devisa untuk negara dan
bersaing dengan negara lain yang mempunyai obyek pariwisata terbatas tetapi
diurus dengan serius, seperti yang dilakukan oleh Malaysia, Singapore, Vietnam
dan lain lain.Keseriusan Pemerintah untuk menjadikan industri Pariwisata
sebagai salah satu sumber utama penerimaan negara di masa depan merupakan niat
yang harus didukung dan diharapkan dipersiapkan secara serius oleh Pemerintah,
bukan hanya sekedar lips service.
Target 20 juta wisatawan manca negara (wisman) hingga tahun 2019 merupakan target yang ditetapkan oleh Pemerintahan Jokowi dan untuk dapat mencapai target tersebut harus dibuat strategi yang handal dari sisi kebijakan, kesiapan infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusianya. Tanpa itu semua sulit target tersebut akan tercapai. Pemerintah sudah menetapkan 10 daerah wisata unggulan dengan anggaran yang tidak sedikit (sekitar Rp 20 triliun), baik untuk pengembangan industri pariwisatanya sendiri maupun pembangunan infrastruktur penunjangnya, seperti bandara, pelabuhan laut/sungai/danau, jalan tol dan sebagainya. Namun rencana tinggal rencana kalau penyakit korupsi penyalahgunaan anggaran negara, terutama di daerah, belum berhenti.Untuk melihat tingkat keseriusan Pemerintah, kita bisa menggunakan contoh beberapa lokasi yang saat ini sedang dan akan dikembangkan sebagai 10 destinasi utama wisata atau Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), yaitu : Danau Toba (Sumut), Tanjung Lesung (Banten), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Kawasan Bromo-Tengger (Jawa Timut), Mandalika, Labuan Bajo (NTT), Wakatobi (Sulawesi Tenggara) dan Morotai (Maluku Utara).
Malalui penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) No. 3 Tahun 2016 Tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, Pemerintah melakukan percepatan pembangunan infrastruktur transportasi, listrik dan air bersih guna menunjang pengembangan 10 Kawasan tersebut. Dari 10 Kawasan tersebut, Danau Toba merupakan salah satu potensi besar yang cukup sulit dikembangkan, jika dibandingkan dengan 9 darah lainnya.
Target 20 juta wisatawan manca negara (wisman) hingga tahun 2019 merupakan target yang ditetapkan oleh Pemerintahan Jokowi dan untuk dapat mencapai target tersebut harus dibuat strategi yang handal dari sisi kebijakan, kesiapan infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusianya. Tanpa itu semua sulit target tersebut akan tercapai. Pemerintah sudah menetapkan 10 daerah wisata unggulan dengan anggaran yang tidak sedikit (sekitar Rp 20 triliun), baik untuk pengembangan industri pariwisatanya sendiri maupun pembangunan infrastruktur penunjangnya, seperti bandara, pelabuhan laut/sungai/danau, jalan tol dan sebagainya. Namun rencana tinggal rencana kalau penyakit korupsi penyalahgunaan anggaran negara, terutama di daerah, belum berhenti.Untuk melihat tingkat keseriusan Pemerintah, kita bisa menggunakan contoh beberapa lokasi yang saat ini sedang dan akan dikembangkan sebagai 10 destinasi utama wisata atau Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), yaitu : Danau Toba (Sumut), Tanjung Lesung (Banten), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Kawasan Bromo-Tengger (Jawa Timut), Mandalika, Labuan Bajo (NTT), Wakatobi (Sulawesi Tenggara) dan Morotai (Maluku Utara).
Malalui penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) No. 3 Tahun 2016 Tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, Pemerintah melakukan percepatan pembangunan infrastruktur transportasi, listrik dan air bersih guna menunjang pengembangan 10 Kawasan tersebut. Dari 10 Kawasan tersebut, Danau Toba merupakan salah satu potensi besar yang cukup sulit dikembangkan, jika dibandingkan dengan 9 darah lainnya.
BAB II
ISI
Pariwisata
Indonesia benar-benar melejit secara fundamental. Perpaduan antara dedikasi,
komitmen, strategi, dan teori yang diambil Menteri Arief Yahya mulai terasa
detak-nya.Sejak Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dinakhodai Arief, industri
pariwisata Indonesia melesat gila-gilaan. Impact ekonomi di level bisnisnya,
juga makin terasa. Setidaknya, hal itu terlihat dari tren kunjungan wisatawan
mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang Januari-April 2017.Tren kunjungan
wisman ke Indonesia lebih tinggi dibandingkan tiga negara besar di Asia
Tenggara. Yakni, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Melansir laman Business
Times pada 24 Juni, kunjungan wisman ke Singapura dalam empat bulan pertama
2017 mencapai 5,79 juta. Jumlah itu hanya meningkat 4,4 persen secara year
on year (yoy) dibandingkan periode yang sama 2016 lalu.Dari jumlah
itu, sebanyak 1,1 juta merupakan wisman asal Tiongkok. Sementara itu, wisatawan
asal Indonesia yang berkunjung ke Singapura mencapai 968 ribu. Namun, kunjungan
wisman asal Indonesia ke Singapura berpeluang menurun. “Penguatan dolar
Singapura diperkirakan bertahan tahun ini. Hal itu akan menghalangi warga
Indonesia untuk liburan ke Singapura,” yang disampaikan oleh Direktur Riset
Cushman & Wakefield, Christine Li.
Kenaikan
yang hanya 4,4 persen itu membuat industri perhotelan di Singapura anjlok dua
persen pada empat bulan pertama 2017.Total revenue hanya mencapai SGD 1,06
miliar. Average room rates (ARR) juga turun 2,3 persen.Sementara itu, tren
kunjungan wisman ke Malaysia malah lebih parah. Menukil laman Xinhua pada 8
Juni, kunjungan wisman ke Negeri Jiran, julukan Malaysia turun 0,5 persen
secara year on year (yoy).Penurunan terbesar berasal dari wisman asal Amerika
Serikat (AS). Melansir laman Bernama pada 19 Juni, kunjungan turis asal AS
sepanjang Januari-April 2017 hanya sejumlah 52.237.Artinya, ada penurunan
sebesar 12,9 persen. Turis AS menempati posisi ke-14 dari 15 total wisman yang
mengunjungi Malaysia. Namun, kunjungan wisman asal Tiongkok mencapai 551 ribu
alias naik 7,5 persen.Jumlah itu menjadikan turis asal Tiongkok menduduki
peringkat ketiga dari total wisman yang berkunjung ke Negeri Jiran. Sementara
itu, tren kunjungan wisman ke Thailand yang selama ini dianggap musuh
profesional oleh Arief Yahya juga tak terlalu menggembirakan.
Berdasarkan data
Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand sebagaimana dilansir TTR Weekly
akhir Mei lalu, kunjungan wisman ke Negeri Gajah Putih pada empat bulan pertama
2017 mencapai 12,02 juta. Angka itu hanya naik 2,91 persen dibandingkan periode
yang sama 2016 lalu. Saat itu, sebanyak 11,68 juta wisman pelesiran ke
Thailand.Kunjungan turis asing dari beberapa negara ke Thailand juga anjlok
cukup tajam. Penurunan terbesar terjadi dari wisman Tiongkok yang anjlok 7,5
persen. Sedangkan peningkatan tertinggi berasal dari wisman Rusia. Sebanyak
595.618 turis Rusia berkunjung ke Thailand sejak Januari hingga April.Jumlah
itu meningkat 34,35 persen dibandingkan periode yang sama 2016 lalu sejumlah
443.346. Sementara itu, wisman India yang selama ini menjadi pasar nan gemuk
hanya naik dari 94.012 menjadi 107.451. Artinya, kenaikan hanya sebesar 14,29
persen.Melihat tren kunjungan wisman ke tiga negara besar itu, Indonesia boleh
menepuk dada. Sebab, tren kunjungan wisman ke Indonesia berhasil melampaui
tiga negara besar tersebut. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS),
sebanyak 4,20 juta wisman mengunjungi Indonesia sepanjang Januari-April
2017.Artinya, ada peningkatan sebesar 19,34 persen dibandingkan periode yang
sama 2016 lalu. Saat itu, jumlah kunjungan wisman mencapai 3,52
juta. Khusus kunjungan wisman pada April 2017 juga mengalami lonjakan
signifikan. Jumlah wisman yang ke Indonesia pada April 2017 lalu mencapai 1,14
juta.Angka itu melesat 26,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ketika
itu, sebanyak 901.09 wisman berlibur ke Indonesia.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
pengoptimalan sektor pariwisata dapat
memajukan dan mensejahterakan daerah wisata khusunya sehingga dapat berdampak
positif bagi negara. Dengan langkah dan kebijakan pemerintah yang tepat, sektor
pariwisata merupakanpenyumbang devisa trbesar kelima setelah minyak, gas, batubara dan kelapa sawit. Trend pertumbuhan
pariwisata Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.
Sektor pariwisata dapat membuka banyak lapangan kerja
sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran yang tentu saja berdampak baik
untuk kesejahteraan masyarakat.Sektor ini memberikn kesempatan bagi para
pengusaha kecil hingga pengusaha besar karena menyerap dari berbagi usaha,
antara lain perhotelan atau penginapan untuk tempat menginap selama berwisata,
jasa transportasi, guide, rumah makan atau restoran, ticketing, dll.
Tren kunjungan wisman
ke Indonesia lebih tinggi dibandingkan tiga negara besar di Asia Tenggara.
Yakni, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Melansir laman Business Times pada 24
Juni, kunjungan wisman ke Singapura dalam empat bulan pertama 2017 mencapai
5,79 juta. Jumlah itu hanya meningkat 4,4 persen secara year on year (yoy)
dibandingkan periode yang sama 2016 lalu. Kenaikan yang hanya 4,4 persen itu
membuat industri perhotelan di Singapura anjlok dua persen pada empat bulan
pertama 2017. Artinya, ada peningkatan sebesar 19,34 persen dibandingkan
periode yang sama 2016 lalu. Saat itu, jumlah kunjungan wisman mencapai 3,52
juta. Khusus kunjungan wisman pada April 2017 juga mengalami lonjakan
signifikan. Jumlah wisman yang ke Indonesia pada April 2017 lalu mencapai 1,14
juta.
B.
Saran
Pemerintah harus memperhatikan setiap
perkembangan pariwisata, agar tidak menyebabkan kerugian bagi negara. Pemerintah juga harus memerhatikan perbaikan-perbaikan terhadap destinasi,
terutama bagaimana usaha pemerintah untuk mencegah orang-orang yang dapat
meresahkan turis, seperti perampokan, kemudian “pak ogah” orang-orang yang
memungut bayaran parker yang sebenarnya sudah ada loket untuk membayar parker,
dan masih banyak lagi masalah masalah yang perlu dibenahi sehingga para
wisatawan merasa aman dan nyaman untuk berwisata di Indonesia.
BAB IV
REFRENSI
http://lifestyle.liputan6.com/read/3011093/pariwisata-indonesia-tumbuh-paling-pesat-di-asia-tenggara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar