Sabtu, 25 November 2017

PROYEK TOL BECAKAYU ( TULISAN PENGANTAR BISNIS # )

PROYEK TOL BECAKAYU

Hasil gambar untuk logo gundar

Disusun oleh :

NAMA    :   ROSIDAH PANJAITAN
NPM        :   25217400
KELAS    :   1 EB 18

PENGANTAR BISNIS
2017/2018




BAB I
PENDAHULUAN

DKI Jakarta merupakan tempat dimana pusat kegiatan maupun pemerintahan Indonesia terjadi, maka dari itu DKI Jakarta memerlukan wilayah penyangga untuk menunjang segala aktivitasnya. Salah satu daerah yang menjadi penyangganya adalah Kota Bekasi yang merupakan bagian dari megapolitan Jabodetabek yang saat ini berkembang menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri. Mobilitas antara Kota Bekasi dan DKI Jakarta, khususnya Kotamadya Jakarta Timur, dapat terbilang tinggi. Hal itulah yang mendasari dibangunnya Jalan Layang Tol Becakayu yang menghubungkan Bekasi, Cawang, dan Kampung Melayu.
Akan tetapi, proses pembangunan jalan layang di tengah ramainya jalan arteri tidaklah mudah. Berbagai macam persoalan harus dirasakan pemerintah dan para pengguna jalan maupun kontraktor dalam membangunnya. Mulai dari masalah pendanaan hingga persoalan teknis di lapangan . Demi pembangunan jalan tol yang diharapkan dapat mengurai kemacetan di Kalimalang ini.





BAB II
ISI

Jalan tol becakayu adalah jalan tol berkonstruksi layang yang dibangun diatas sungai Kalimalang di kota Jakarta Timur dan Bekasi untuk mengurai kemacetan di sekitar Kalimalang. Jalan tol ini dimulai pembangunannya pada tahun 1996 oleh PT Kresna Kusuma Dyandra Marga, namun terhenti dua tahun kemudian akibat krisis moneter yang melanda. Jalan tol Becakayu menelan biaya investasi Rp 7,2 triliun, biaya konstruksi Rp 4,785 triliun, biaya pembebasan tanah Rp 449 miliar, dan masa konsesi 45 tahun (sejak SPMK). Investor dan pengelola Tol Becakayu adalah PT Waskita Toll Road, anak usaha dari PT Waskita Karya (PerseroTbk yang memegang 60 persen saham PT Kresna Kusuma Dyandra Marga.

Tol Becakayu dinilai bakal mendorong investasi properti di sepanjang Jalan Raya Kali Malang dan Bekasi disambut hangat masyarakat dan pengembang karena dapat menjadi solusi mengatasi kemacetan di koridor tersebut.Selain Tol Becakayu, pemerintah juga akan membebaskan lahan untuk melebarkan Jalan Raya Kalimalang mulai dari ruas Jalan Kyai Haji Noer Alie hingga Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang di Cawang sepanjang hampir 5 kilometer yang lokasinya berada di sepanjang Jalan Raya Kalimalang arah Bekasi. Areal lahan yang dibebaskan selebar 15 meter di kiri dan kanan jalan. Pembebasan lahan ini dialokasikan bagi jalur busway yang kelak akan terhubung hingga Bekasi. Tol Cipali merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Jawa yang akan menghubungkan Jakarta-Cikampek-Cileunyi (Bandung)- Palimanan (Cirebon). Sudah barang tentu Bekasi yang dilalui  jalan tol ini akan ikut memetik manfaat. Bekasi juga akan menjadi titik kedatangan dan dan keberangkatan MRT (Mass Rapid Transport) dan LRT (Light Rail Transit). Pembangunan LRT dan MRT direncanakan akan membentang dari Cikarang (Bekasi) sampai ke Balaraja (Tangerang.)
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahjapurnama  menegaskan, Presiden memerintahkan agar moda itu dibangun dulu dan tidak perlu teralu berhitung secara bisnis. Karena, katanya, satu tahun saja proyek tertunda karena macet, kerugiannya bisa mencapai Rp 45 triliun. Padahal, biaya pembangunan LRT hanya Rp40 triliun.
Presiden Jokowi telah mempertimbangkan kemampuan keuangan pemerintah propinsi Jawa Barat dan Banten yang memiliki kepentingan lebih banyak pada kedua proyek itu.Presiden juga sudah memerintahkan, tahun ini harus sudah jalan, harus sudah mulai konstruksinya. Sambutan pengembang Menurut data Jabodetabek Publik Transportation Policy Implementation Strategy (JAPTRAPIS), Bekasi merupakan kota penyangga terpadat keempat di Indonesia dengan populasi mencapai 7,4 juta.Terdapat 2,5 juta penglaju Bekasi yang menyerbu Jakarta. Angka ini paling tinggi dibanding serbuan penglaju warga Bogor dan Depok ke Jakarta yang 2,2 juta penglaju. Demikian juga dari Tangerang sebanyak 2,1 juta penglaju. Volume perjalanan dari daerah penyangga itu memberikan kontribusi hampir separuh dari total volume perjalanan di Jakarta sebanyak 18,7 juta penglaju.Maka tidak mengherankan bila pembangunan  berbagai proyek infrastruktur itu disambut antusias pengembang. Menurut Presiden Direktur PT Prioritas Land Marcellus Chandra, jalan tol ini akan membuat arus transportasi Jakarta-Bekasi semakin lancar karena akan mengurangi kemacetan di daerah Jalan Raya Kalimalang dan sekitarnya. Jalan Tol Becakayu akan membuat sektor properti di Bekasi semakin dibidik para konsumen dan investor. Sebagai pengembang, bahwa fasilitas jalan tol merupakan salah satu faktor terpenting dan berpengaruh terhadap nilai properti. Sudah dipastikan, nilai investasi properti akan meningkat drastis setelah pembangunan tol ini. Jalan tol Becakayu sudah bisa dioperasikan pada 2017. Ia berharap pada akhir 2016 proyek fisiknya sudah rampung. Saat ini proyeknya tengah dikerjakan berupa pengecoran tiang pancang. Proyek yang digarap PT Waskita Karya Tbk itu akan dibangun sepanjang 21,04 kilometer yang membentang di sepanjang aliran Kalimalang. Di wilayah Kota Bekasi, pintu masuk dan keluar Tol Becakayu direncanakan berada di Kelurahan Durenjaya, Kecamatan Bekasi Timur. Kemudian melewati  Rawatembaga-Bekasi Selatan lalu menyisir sisi selatan Kalimalang hingga ke Sumber Arta, perbatasan dengan Jakarta Timur.
Tol Becakayu terdiri atas dua seksi, yaitu  Seksi I (Kasablanka-Jakasampurna) dan Seksi II (Jakasampurna-Durenjaya). Panjang seksi I adalah 11 km, dan Seksi II sekitar 10,04 km dengan total investasi Tol Becakayu mencapai Rp7,2 triliun. Saat ini, PT Waskita Karya Tbk menggarap pembangunan Seksi I dengan anggaran sekitar Rp3,9 triliun.   Namun, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi sempat menyatakan keberatan jika rencana jalan tol Becakayu melintasi Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan. Alasannya, proyek itu bisa menambah kemacetan. Kalau dipaksakan juga, akan bertolak belakang dengan semangat mengurangi titik kemacetan.
Atas keberatan itu, kementerian PUPR kini sedang mengkaji rencana pembebasan ke lahan baru di Jalan Kemakmuran, Kota Bekasi. Yang akan dibebaskan kemungkinan di kiri dan kanan saluran Jalan Kemakmuran yang satu sisinya mencapai 30 meter. “Untuk pembebasan tanah menunggu kajian selesai,” kata Pejabat Pembuat Komitmen Proyek Jalan Tol Becakayu Kementerian PUPR, Kartono. Menurut Kartono, sebagai konsekuensi penolakan itu, Pemerintah Kota Bekasi menyarankan trase Becakayu diubah ke Jalan Kemakmuran yang bersebelahan dengan Jalan Ahmad Yani melalui belakang Kompleks Perkantoran Pemkot Bekasi. Kebutuhan lahan pengganti tersebut diproyeksikan sepanjang 500 meter yang membentang dari Jalan Kemakmuran hingga Kelurahan Durenjaya, Kecamatan Bekasi Timur. Proyek jalan tol ini Mei lalu mendapat kunjungan dari tiga orang analis masingmasing dari Mandiri Sekuritas, Danareksa,dan Bahana. Kepada para analis, Kepala Proyek Jalan Tol Becakayu, Dwi Pratikto, menjelaskan, bahwa Proyek Tol Becakayu adalah milik PT Kresna Kusuma Dyandra Marga (KKDM) yang konstruksinya dikerjakan oleh Divisi Sipil, PT Waskita Karya (Persero) Tbk dengan jenis kontrak Lump Sump Price.
Proyek ini dilaksanakan selama 730 hari kalender dan masa pemeliharaan selama 365 hari kalender.  Panjang jalan tol Becakayu 10.500 meter dengan lebar 2 x 14,0 meter (2 jalur / 6 lajur) dan perkerasan jalan Flexible Pavement (ACWC). Struktur berupa pondasi tiang pancang terdiri dari Square Pile 45 x 45 Cm dan Spun Pile diameter 60 Cm, Kolom octagonal (pilar existing) sebanyak 79 kolom, Square 2,50 x 2,50 m (pilar lanjutan) sebanyak 272 kolom. Gelagar Jembatan berupa PCI Girder Span 25, 29, 32, & 38 M. Metode erection Crane & Launching Gantry, Crossing JORR berupa Steel Girder Span 60 meter.  Jalan tol ini memiliki 4 (empat) buah On/Off Ramp, yaitu On/Off Ram Jatiwaringin, On/Off Ram  Pondok Kelapa 1, On/Off Ram Pondok Kelapa 2, dan On/Off Ram Patriot.
Pembangunan jalan layang Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), yang sempat terkatung-katung selama 17 tahun, akhirnya kembali dilanjutkan. Saat ini telah berjalan pengerjaan seksi I sepanjang 21,04 km dari Kampung Melayu Jakarta Timur hingga Jakasampurna, Kota Bekasi.
Saat ini, sekitar 917 pohon di sepanjang jalan tersebut, khususnya di wilayah Duren Sawit Jakarta Timur, ditebangi terkait kelanjutan pembangunan jalan layang di sisi selatan Saluran Tarum Barat (Kalimalang). Ini juga terkait pelebaran Jalan Inspeksi Kalimalang. Kini, suasana di sepanjang jalan itu mulai gersang karena pohon pelindung sudah ditebang.

Kepala Suku Dinas (Kasudin) Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Timur, Mimi Rachmawati mengatakan, lebih dari 917 pohon ditebang akibat terkena proyek tersebut; di antaranya 717 pohon besar dan 200 lebih pohon ukuran kecil. “Pohon besar yang ditebang pasti akan diganti. Perbandingannya satu pohon diganti 10 pohon. Kalau ada 717 pohon, gantinya bisa 7.017 pohon,” ucap Mini saat dihubungi. Pohon pengganti ini akan ditanam di sejumlah titik di Jakarta Timur, terutama di daerah yang masih gersang. Penebangan pohon jenis mahoni, trembesi, dan ketapang kencana, membuat kondisi jalan yang sebelumnya sejuk, kini menjadi gersang. Hal itu dikeluhkan masyatakat. Kondisi infrastruktur di sepanjang jalan itu pun semrawut karena tidak dikuti pemindahan tiang listrik. Ini sangat membahayakan pengendara. Minimnya rambu lalu lintas mengenai adanya pembangunan jalan juga cukup menghawatirkan. Lampu penerangan jalan umum (PJU) di Kalimalang pun banyak yang mati. Masalah itu cukup menghawatirkan keselamatan para pengendara.




BAB III
PENUTUP

    A.    Kesimpulan

Pembangunan jalan layang Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), yang sempat terkatung-katung selama 17 tahun, akhirnya kembali dilanjutkan. Tol Becakayu terdiri atas dua seksi, yaitu  Seksi I (Kasablanka-Jakasampurna) dan Seksi II (Jakasampurna-Durenjaya). Panjang seksi I adalah 11 km, dan Seksi II sekitar 10,04 km dengan total investasi Tol Becakayu mencapai Rp7,2 triliun. Saat ini, PT Waskita Karya Tbk menggarap pembangunan Seksi I dengan anggaran sekitar Rp3,9 triliun.   Namun, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi sempat menyatakan keberatan jika rencana jalan tol Becakayu melintasi Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan. Alasannya, proyek itu bisa menambah kemacetan. Kalau dipaksakan juga, akan bertolak belakang dengan semangat mengurangi titik kemacetan.
   B.     Saran
Proyek ini diharapkan dapat mengurangin kemacetan, khususnyadi bekasi.Dan pembangunan tol becakayu ini dapat di selesaikan sesuai rencana dan dapat di selesaikan dengan cepat agar tidak menghambat aktifitas jalan agar tidak terjadinya korban( kecelakaan).



BAB IV
REFRENSI







Tidak ada komentar:

Posting Komentar