PROYEK
TOL BECAKAYU

Disusun
oleh :
NAMA : ROSIDAH PANJAITAN
NPM : 25217400
KELAS
: 1 EB
18
PENGANTAR
BISNIS
2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN
DKI
Jakarta merupakan tempat dimana pusat kegiatan maupun pemerintahan Indonesia
terjadi, maka dari itu DKI Jakarta memerlukan wilayah penyangga untuk menunjang
segala aktivitasnya. Salah satu daerah yang menjadi penyangganya adalah Kota
Bekasi yang merupakan bagian dari megapolitan Jabodetabek yang saat ini
berkembang menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri. Mobilitas
antara Kota Bekasi dan DKI Jakarta, khususnya Kotamadya Jakarta Timur, dapat
terbilang tinggi. Hal itulah yang mendasari dibangunnya Jalan Layang Tol
Becakayu yang menghubungkan Bekasi, Cawang, dan Kampung Melayu.
Akan tetapi, proses pembangunan jalan
layang di tengah ramainya jalan arteri tidaklah mudah. Berbagai macam persoalan
harus dirasakan pemerintah dan para pengguna jalan maupun kontraktor dalam
membangunnya. Mulai dari masalah pendanaan hingga persoalan teknis di lapangan
. Demi pembangunan jalan tol yang diharapkan dapat mengurai kemacetan di
Kalimalang ini.
BAB II
ISI
Jalan
tol becakayu adalah jalan tol berkonstruksi layang yang dibangun diatas
sungai Kalimalang di kota Jakarta Timur dan Bekasi untuk mengurai
kemacetan di sekitar Kalimalang. Jalan tol ini dimulai pembangunannya pada
tahun 1996 oleh PT Kresna Kusuma Dyandra Marga,
namun terhenti dua tahun kemudian akibat krisis
moneter yang
melanda. Jalan tol Becakayu menelan biaya investasi Rp 7,2 triliun, biaya
konstruksi Rp 4,785 triliun, biaya pembebasan tanah Rp 449 miliar, dan masa
konsesi 45 tahun (sejak SPMK). Investor dan pengelola Tol Becakayu adalah PT
Waskita Toll Road, anak usaha dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk yang memegang 60
persen saham PT Kresna Kusuma Dyandra Marga.
Tol
Becakayu dinilai bakal mendorong investasi properti di sepanjang Jalan Raya
Kali Malang dan Bekasi disambut hangat masyarakat dan pengembang karena dapat
menjadi solusi mengatasi kemacetan di koridor tersebut.Selain Tol Becakayu,
pemerintah juga akan membebaskan lahan untuk melebarkan Jalan Raya Kalimalang
mulai dari ruas Jalan Kyai Haji Noer Alie hingga Jalan Inspeksi Saluran
Kalimalang di Cawang sepanjang hampir 5 kilometer yang lokasinya berada di
sepanjang Jalan Raya Kalimalang arah Bekasi. Areal lahan yang dibebaskan
selebar 15 meter di kiri dan kanan jalan. Pembebasan lahan ini dialokasikan
bagi jalur busway yang kelak akan terhubung hingga Bekasi. Tol Cipali merupakan
bagian dari Jalan Tol Trans Jawa yang akan menghubungkan
Jakarta-Cikampek-Cileunyi (Bandung)- Palimanan (Cirebon). Sudah barang tentu
Bekasi yang dilalui jalan tol ini akan
ikut memetik manfaat. Bekasi juga akan menjadi titik kedatangan dan dan
keberangkatan MRT (Mass Rapid Transport) dan LRT (Light Rail Transit).
Pembangunan LRT dan MRT direncanakan akan membentang dari Cikarang (Bekasi)
sampai ke Balaraja (Tangerang.)
Gubernur DKI Jakarta Basuki
Tjahjapurnama menegaskan, Presiden memerintahkan agar moda itu dibangun
dulu dan tidak perlu teralu berhitung secara bisnis. Karena, katanya, satu
tahun saja proyek tertunda karena macet, kerugiannya bisa mencapai Rp 45
triliun. Padahal, biaya pembangunan LRT hanya Rp40 triliun.
Presiden Jokowi telah
mempertimbangkan kemampuan keuangan pemerintah propinsi Jawa Barat dan Banten
yang memiliki kepentingan lebih banyak pada kedua proyek itu.Presiden juga
sudah memerintahkan, tahun ini harus sudah jalan, harus sudah mulai
konstruksinya. Sambutan pengembang Menurut data Jabodetabek Publik
Transportation Policy Implementation Strategy (JAPTRAPIS), Bekasi merupakan
kota penyangga terpadat keempat di Indonesia dengan populasi mencapai 7,4
juta.Terdapat 2,5 juta penglaju Bekasi yang menyerbu Jakarta. Angka ini paling
tinggi dibanding serbuan penglaju warga Bogor dan Depok ke Jakarta yang 2,2
juta penglaju. Demikian juga dari Tangerang sebanyak 2,1 juta penglaju. Volume
perjalanan dari daerah penyangga itu memberikan kontribusi hampir separuh dari
total volume perjalanan di Jakarta sebanyak 18,7 juta penglaju.Maka tidak mengherankan
bila pembangunan berbagai proyek infrastruktur itu disambut antusias
pengembang. Menurut Presiden Direktur PT Prioritas Land Marcellus Chandra,
jalan tol ini akan membuat arus transportasi Jakarta-Bekasi semakin lancar
karena akan mengurangi kemacetan di daerah Jalan Raya Kalimalang dan
sekitarnya. Jalan Tol Becakayu akan membuat sektor properti di Bekasi semakin
dibidik para konsumen dan investor. Sebagai pengembang, bahwa fasilitas jalan
tol merupakan salah satu faktor terpenting dan berpengaruh terhadap nilai
properti. Sudah dipastikan, nilai investasi properti akan meningkat drastis
setelah pembangunan tol ini. Jalan tol Becakayu sudah bisa dioperasikan pada
2017. Ia berharap pada akhir 2016 proyek fisiknya sudah rampung. Saat ini
proyeknya tengah dikerjakan berupa pengecoran tiang pancang. Proyek yang
digarap PT Waskita Karya Tbk itu akan dibangun sepanjang 21,04 kilometer yang
membentang di sepanjang aliran Kalimalang. Di wilayah Kota Bekasi, pintu masuk
dan keluar Tol Becakayu direncanakan berada di Kelurahan Durenjaya, Kecamatan
Bekasi Timur. Kemudian melewati Rawatembaga-Bekasi Selatan lalu menyisir
sisi selatan Kalimalang hingga ke Sumber Arta, perbatasan dengan Jakarta Timur.
Tol Becakayu terdiri atas
dua seksi, yaitu Seksi I (Kasablanka-Jakasampurna) dan Seksi II
(Jakasampurna-Durenjaya). Panjang seksi I adalah 11 km, dan Seksi II sekitar
10,04 km dengan total investasi Tol Becakayu mencapai Rp7,2 triliun. Saat ini,
PT Waskita Karya Tbk menggarap pembangunan Seksi I dengan anggaran sekitar
Rp3,9 triliun. Namun, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi sempat
menyatakan keberatan jika rencana jalan tol Becakayu melintasi Jalan Ahmad
Yani, Bekasi Selatan. Alasannya, proyek itu bisa menambah kemacetan. Kalau
dipaksakan juga, akan bertolak belakang dengan semangat mengurangi titik
kemacetan.
Atas keberatan itu,
kementerian PUPR kini sedang mengkaji rencana pembebasan ke lahan baru di Jalan
Kemakmuran, Kota Bekasi. Yang akan dibebaskan kemungkinan di kiri dan kanan
saluran Jalan Kemakmuran yang satu sisinya mencapai 30 meter. “Untuk pembebasan
tanah menunggu kajian selesai,” kata Pejabat Pembuat Komitmen Proyek Jalan Tol
Becakayu Kementerian PUPR, Kartono. Menurut Kartono, sebagai konsekuensi
penolakan itu, Pemerintah Kota Bekasi menyarankan trase Becakayu diubah ke
Jalan Kemakmuran yang bersebelahan dengan Jalan Ahmad Yani melalui belakang
Kompleks Perkantoran Pemkot Bekasi. Kebutuhan lahan pengganti tersebut
diproyeksikan sepanjang 500 meter yang membentang dari Jalan Kemakmuran hingga
Kelurahan Durenjaya, Kecamatan Bekasi Timur. Proyek jalan tol ini Mei lalu
mendapat kunjungan dari tiga orang analis masingmasing dari Mandiri Sekuritas,
Danareksa,dan Bahana. Kepada para analis, Kepala Proyek Jalan Tol Becakayu, Dwi
Pratikto, menjelaskan, bahwa Proyek Tol Becakayu adalah milik PT Kresna Kusuma
Dyandra Marga (KKDM) yang konstruksinya dikerjakan oleh Divisi Sipil, PT
Waskita Karya (Persero) Tbk dengan jenis kontrak Lump Sump Price.
Proyek ini dilaksanakan
selama 730 hari kalender dan masa pemeliharaan selama 365 hari kalender.
Panjang jalan tol Becakayu 10.500 meter dengan lebar 2 x 14,0 meter (2
jalur / 6 lajur) dan perkerasan jalan Flexible Pavement (ACWC). Struktur berupa
pondasi tiang pancang terdiri dari Square Pile 45 x 45 Cm dan Spun Pile
diameter 60 Cm, Kolom octagonal (pilar existing) sebanyak 79 kolom, Square 2,50
x 2,50 m (pilar lanjutan) sebanyak 272 kolom. Gelagar Jembatan berupa PCI
Girder Span 25, 29, 32, & 38 M. Metode erection Crane & Launching
Gantry, Crossing JORR berupa Steel Girder Span 60 meter. Jalan tol ini
memiliki 4 (empat) buah On/Off Ramp, yaitu On/Off Ram Jatiwaringin, On/Off Ram
Pondok Kelapa 1, On/Off Ram Pondok Kelapa 2, dan On/Off Ram Patriot.
Pembangunan
jalan layang Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), yang sempat
terkatung-katung selama 17 tahun, akhirnya kembali dilanjutkan. Saat ini telah
berjalan pengerjaan seksi I sepanjang 21,04 km dari Kampung Melayu Jakarta
Timur hingga Jakasampurna, Kota Bekasi.
Saat ini, sekitar 917 pohon
di sepanjang jalan tersebut, khususnya di wilayah Duren Sawit Jakarta Timur,
ditebangi terkait kelanjutan pembangunan jalan layang di sisi selatan Saluran
Tarum Barat (Kalimalang). Ini juga terkait pelebaran Jalan Inspeksi Kalimalang.
Kini, suasana di sepanjang jalan itu mulai gersang karena pohon pelindung sudah
ditebang.
Kepala
Suku Dinas (Kasudin) Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Timur, Mimi Rachmawati
mengatakan, lebih dari 917 pohon ditebang akibat terkena proyek tersebut; di
antaranya 717 pohon besar dan 200 lebih pohon ukuran kecil. “Pohon besar yang
ditebang pasti akan diganti. Perbandingannya satu pohon diganti 10 pohon. Kalau
ada 717 pohon, gantinya bisa 7.017 pohon,” ucap Mini saat dihubungi. Pohon
pengganti ini akan ditanam di sejumlah titik di Jakarta Timur, terutama di
daerah yang masih gersang. Penebangan pohon jenis mahoni, trembesi, dan
ketapang kencana, membuat kondisi jalan yang sebelumnya sejuk, kini menjadi
gersang. Hal itu dikeluhkan masyatakat. Kondisi infrastruktur di sepanjang
jalan itu pun semrawut karena tidak dikuti pemindahan tiang listrik. Ini sangat
membahayakan pengendara. Minimnya rambu lalu lintas mengenai adanya pembangunan
jalan juga cukup menghawatirkan. Lampu penerangan jalan umum (PJU) di
Kalimalang pun banyak yang mati. Masalah itu cukup menghawatirkan keselamatan
para pengendara.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembangunan jalan layang
Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), yang sempat terkatung-katung
selama 17 tahun, akhirnya kembali dilanjutkan. Tol Becakayu terdiri atas dua
seksi, yaitu Seksi I (Kasablanka-Jakasampurna) dan Seksi II
(Jakasampurna-Durenjaya). Panjang seksi I adalah 11 km, dan Seksi II sekitar
10,04 km dengan total investasi Tol Becakayu mencapai Rp7,2 triliun. Saat ini,
PT Waskita Karya Tbk menggarap pembangunan Seksi I dengan anggaran sekitar
Rp3,9 triliun. Namun, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi sempat
menyatakan keberatan jika rencana jalan tol Becakayu melintasi Jalan Ahmad Yani,
Bekasi Selatan. Alasannya, proyek itu bisa menambah kemacetan. Kalau dipaksakan
juga, akan bertolak belakang dengan semangat mengurangi titik kemacetan.
B. Saran
Proyek ini diharapkan dapat
mengurangin kemacetan, khususnyadi bekasi.Dan pembangunan tol becakayu ini dapat
di selesaikan sesuai rencana dan dapat di selesaikan dengan cepat agar tidak
menghambat aktifitas jalan agar tidak terjadinya korban( kecelakaan).
BAB IV
REFRENSI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar